Kamu dalam Tulisanku
Judul Buku : Dilan Bagian Kedua: Dia adalah Dilanku Tahun 1991
Penulis : Pidi Baiq
Penerbit : PT Mizan Pustaka
Cetakan : XIX, Februari 2017
Jumlah Halaman : 344 halaman
ISBN :
978-602-7870-99-4
Kisah masa SMA menjadi ingatan paling
kaya, kenangan-kenangan masa lalu mengenai jatuh cinta, dan perasaan yang mulai
di utarakan, serta berakhir dengan pacaran. Pidi Baiq, mengemas serangkaian
kisah SMA dalam tokoh yang diperankan Dilan dan Milea. Menceritakan seklumit
cinta masa remaja yang tak bisa terhapus dalam ingatan seseorang, Milea. Dalam
penuturannya, Milea mengisahkan Dilan menjadi panglima tempur yang hebat.
Segala tingkah Dilan dengan tengil
namun cerdas, membuat hati Milea kala itu luluh.
Pidi Baiq, mengemas cerita
mengenai Dilan dan Milea dalam bagian kedua cenderung lebih sendu. Cerita dalam
novel ini berbeda dengan yang pertama. Jika novel pertama mengkisahkan perjuangan
Dilan mendapatkan Milea, yang kala itu baru pindah dari Jakarta ke Bandung. Novel
kedua justru menjelaskan hubungan Dilan dan Milea pasca pacaran, dan problematika
mengenai hubungan keduanya. Disini seakan tangis dan cemas menjadi hal yang
biasa Milea dapatkan karena sikap Dilan.
Namun,tak urung juga kata-kata
manis Dilan, terdapat dalam novel bagian kedua ini. Walaupun tak sebanyak pada
bagian pertama, tetapi tetap ada. Yang membuat novel ini terkesan menarik adalah
beberapa kata-kata kocak tokoh Dilan. Nampak pada beberapa dialog, “Dengar ya, Lia. Kamu harus tau,
senakal-nakalnya anak geng motor, mereka juga sholat pada waktu praktek ujian
Agama,” katanya. (hlm. 24).... “Ibu, Lia gadis remaja, yang ingin dibutuhkan.
Setidaknya, Dilan sudah membuat Lia merasa menjadi seperti itu ketika Lia tahu
Dilan bisa membuat Lia nyaman,” (hlm. 190).
Selain Dilan, Milea pun mengambil langkah
cukup berani dalam hubungan mereka. Milea yang khawatir pada keadaan Dilan,
lantaran dalam novel ini banyak masalah terjadi pada Dilan. Tentu sangat wajar
Milea cemas bila terjadi sesuatu pada orang terkasihnya. Terlihat pada, “Aku
gak suka kau ikut-ikutan geng motor!” (hlm. 288).... Kamu pasti tahu bahwa pada
dasarnya aku benar-benar tidak ingin pergi darinya. Kamu pasti tahu, aku sangat
mencintainya, tapi apa yang terjadi, Dilan tidak pernah mau mendengar
omonganku. Dia selalu melakukan banyak masalah yang akan merugikan diri dan
kehidupannya. Ketika aku tidak setuju dengan apa yang dia lakukan, tetapi hal
itu tidak bisa diselesaikan hanya diskusi. – Milea. (hlm. 299).... Hatiku berdenyut bersama air mataku
yang meleleh dan aku merasa ditikam oleh kekuatan rindu kepadanya! Rasanya, dia
akan selalu menempati tempat khusus di dalam hidupku. – Milea. (hlm. 337).
Beberapa adegan seperti pembunuhan dan
perkelahian ala geng motor, juga turut andil. Seperti terdapat dalam bagian, Dikeroyok Agen CIA (hlm. 75), Malam
Penaklukan (hlm. 94), Akew (hlm. 283). Sosok Dilan yang agak sedikit
berandal, namun cerdas membuatnya terkesan tidak se-menakutkan anak-anak geng
motor dalam pikiran banyak orang. Dalam novel, justru Dilan banyak bergurau,
dan menanggapi setiap masalah dengan enteng,
seakan semua baik-baik saja di depan Milea. Hal tersebut, membuat banyak orang
bisa melihat betapa banyak dan seakan penuh cinta Dilan untuk Milea, dan begitu
juga Milea pada Dilan.
Jatuh cinta memang seringkali
membuat remaja menjadi terbakar emosi untuk terus-menerus mengawasi sang
pujaan, sama seperti Milea. Dilan Bagian Kedua; Dia adalah Dilanku 1991,
mengurai banyak air mata yang disebabkan oleh kejadian mencemaskan Dilan bagi
Milea. Disini, Milea dan Dilan mendapat banyak masalah dalam hubungan mereka.
Mulai dari sikap cengeng Milea,
lantaran sikap keras kepala Dilan. Semua polemik hubungannya sebenarnya
bersumber dari mereka sendiri. Hal itu, dirasa membuat pembaca kesal kepada keduanya,
mulai dari Dilan yang egois, dan Milea yang bersikukuh melarang Dilan dengan
segala aktifitas geng motor.
Khawatir dan cemas beberapa kali
dimunculkan dalam bagian kedua ini, seperti semua masalah tumpah ruah. Mulai dari
datangnya Yugo, saudara jauh Milea dari Belgia. Tak lupa kemunculan Beni,
mantan kekasih Milea. Serta kejadian yang menimpa Dilan, membuat Milea bahkan
harus mengakhiri hubungan mereka. Milea seakan-akan terbakar banyak emosi atas
kejadian-kejadian yang bermunculan. Kasus Anhar yang membuatnya meradang, serta
kejadian besar yang menimpa Dilan.
Siapapun disana, pasti akan
khawatir amat sangat, pada apa yang dialami Milea. Tapi ini justru yang membuat
novel terkesan lebih sendu dan menarik hati, lantaran pembaca di ajak untuk
mengingat kenangan masa dahulu. Kenangan manis yang dahulu pernah singgah. Kita
seperti merasa de javu, dan ingin
kembali pada masa itu. Mengulang, dan menjalani hari-hari yang sulit untuk
dilupakan hingga sekarang. Betapa manis kisah masa SMA.
Pada masa SMA, cinta seakan
menjadi satu-satunya alasan untuk berangkat ke sekolah. Tak heran, lantaran
bertemu pujaan hati adalah suatu yang di nanti. Menghabiskan waktu berdua
selama sehari penuh pun tak masalah, asal bersama dia. Begitu pula Milea dan Dilan,
menghabiskan waktu pulang sekolah untuk sekadar berkeliling dari Jalan Buah
Batu, ke jalan lain, pokoknya naik motor berdua bersama Dilan. Hal itu, bisa
membuat Milea yang tadinya kecewa menjadi sedikit terobati. Selain itu,
mendengar kisah tentang Dilan dari orang lain. Seperti dari Ibunya Dilan
(Bunda), Wati, dan Piyan. Hal tersebut membuat semangat, bahkan cinta Milea
bisa bertambah-tambah, begitu menarik bukan?
Dahulu, kita semua pasti pernah
memiliki seseorang terkasih dalam masa lalu. Sosok yang begitu hebat, terkenang
mesti kini entah dimana keberadaannya. Menuliskan dan mengungkapkan kembali
emosi yang pernah dahulu dirasakan, bisa menjadi salah satu cara untuk
mengenang. Seperti Milea, mengenang kembali sosok Dilan dalam bagian-bagian
novel “Dilan; dia adalah Dilanku”. Pembaca seakan-akan dibawa emosi dalam
setiap kata-kata yang diungkapkan Dilan maupun Milea, dan peran pendukung lain.
Dalam novel ini, kita diingatkan bahwa tujuan pacaran memang untuk putus, bisa
karena menikah atau berpisah. Sama hal nya dengan Dilan dan Milea, bisa saja
mereka tetap bersama atau berpisah karena telah usai, dan novel ini jawabannya.

Komentar
Posting Komentar