Aku & Kata – kata yang Asing
Suara deru motor
berpacu dengan derap jantung yang menjadi terburu. Sialnya aku lupa mengenai
keberangkatan hari ini. Mataku melirik kearah jam tangan, aku harus bisa
berlari secepat kilat dari gerbang stasiun menuju kereta. Tak akan aku biarkan
kali ini rencana gagal lagi. Mulutku merapalkan semua doa yang aku bisa
ucapkan.
Tepat, aku lari begitu
sampai. Meninggalkan tukang ojek yang mungkin sudah geleng – geleng kepala.
Suara peluit kereta yang memekakkan telinga itu berbunyi, sontak aku berlari dan
melompat dengan cepat. Hampir saja.
Jantungku masih saja
memburu kencang. Aku duduk, dan memegang kuat ujung kerudung. Istighfar. Tak ada kalimat dahsyat yang
meredakan amarah selain mengucap itu, dan mengingat Allah. Rasanya aku kembali
sejuk, merasa didekap, dan dilindungi.
Tubuhku tersandar pada
kursi, aku meluruskan kaki. Rasanya aku baru saja selesai lari keliling lapangan
berkali – kali, melelahkan. Tetesan hujan dari balik jendela kereta mengetuk – kerinduan
yang segera aku lepas. Sebentar lagi. Tubuhku sudah siap bertemu rumahnya. Suara dering memecah
lamunan, segera aku lihat. Seseorang yang katanya akan datang menjemput memberi
kabar.
Adit
Sudah
di depan stasiun, nongkrong sebentar, ternyata lama ya.
Aku menarik dua simpul
senyum di bibirku. Mataku tak henti memperhatikan layar yang terbuka. Aku
beruntung memang mempunyai dia. Meski ada bagian yang agaknya aku harus sadar
diri.
Aku menutup kembali
ponsel, dan menoleh kearah jendela kereta. Dedaunan hijau mengelilingi
perjalanan, awan yang mendung, dan suara kerinduan pada kepulangan mematik
emosi. Tanpa sadar, aku kembali mengingat kenangan tak berperasaan kala itu.
Pemantik ini sukses membuat mataku berair. Padahal semalam baru saja aku seka,
tak habis juga ternyata.
Waktu bergerak secepat
kilat, satu setengah jam menjadi asing untuk dirasa berapa lama. Aku terlampau
lelah, hingga tanpa sadar kantung di bawah kelopak mata membesar. Kedua kaki
melangkah keluar, kerumunan orang saling melepas rindu yang sudah mendera. Aku
melihat sepasang bola mata di bawah topi coklat yang selalu khas. Dia mengukir
senyum diantara rambut yang sudah mulai gondrong.
“Sudah habis berapa
gelas kopinya?” tanyaku sambil tersenyum menatap manik mata yang sepertinya
lelah.
“Tadi minum teh,”
jawabnya.
Dia menjawab sambil
membawa tas jinjing milikku. Membawa kearah motor vespa tua, yang kali ini aku rasa baru dicuci. Tangannya
membersihkan boncengan yang agak berdebu, karena dibiarkan terlalu lama. Aku
masih tersenyum, berdiri melihat apa yang dilakukan.
“Putri lagi pergi ya
Dit?” tanyaku sambil mulai naik.
Lama aku tak mendengar
jawabannya. Bahkan ketika motor mulai melesat dari stasiun, aku tak mendengar
Adit menjawab. Aku berpikir, mungkin sedang ingin konsentrasi. Tak apa. Adit
membelah jalanan dengan santai, hidupnya selalu seperti ini.
“Semarang tambah panas
ya?” Adit bersuara.
“Sangat, keluar
sedikit, aku harus memakai macam – macam,” jawabku.
Dia kembali diam, aku
kembali tenggelam dalam keramaian jalan. Tak ada yang berubah pada sahabatku
ini. Masih tetap menjadi pemilih topik untuk berbicara. Gerbang hitam dengan
dinding abu tua mulai terlihat. Adit menghentikan motornya tepat di depan
pagar.
“Tera,” Adit memanggil.
Aku yang berdiri dan
melepas helm memandang kearahnya. Pasti ada sesuatu penting setelah ini.
Sesuatu yang Adit siapkan, dia memang sosok yang tak terduga.
“Soal Putri, jangan
terlalu dibahas. Kemarin kita telah bebas, dia memilih sesuatu yang tak merujuk
pada aku,” jawabnya menatap kearah depan, ada sesuatu yang patah rupanya.
Tanganku tak sengaja
menepuk pundaknya. Ada suatu penguatan. Aku ingin Adit tak perlu memusingkan
kata sudah yang diucapkan Putri. Dia harus santai, seperti Adit yang aku kenal.
“Aku tidak patah, sudah
lama aku menanti dia mengucapkan itu. Akhirnya terucap,” jawabnya tersenyum
lega.
“Ada seseorang baru
lagi?” aku bertanya.
“Nampaknya aku seperti
pujangga yang selalu jatuh cinta ya? Ada bidadari datang, dan aku seperti tersihir,” jawabnya dengan
mata berbinar, dia sangat bahagia.
“Bidadari tak akan
menyihir, dia berarti penyihir,” aku menjawab sekenanya.
Jujur, rasanya aku
lumayan cukup kesal. Ada yang nampak aneh dari pembicaraannya denganku kali
ini. Seperti rasanya aku menemui Adit yang berbeda. Aku perhatikan sosoknya
lekat, dia menghadap kearah depan, tanpa menoleh kearahku. Senyumannya yang aku
tahu, dia tengah jatuh cinta. Sehebat apa gadis itu?
“Nanti aku beri tahu,
dia anak baru di tempat komunitas. Ternyata satu jurusan denganku, tapi
bodohnya aku gak pernah lihat, padahal ada bidadari cantik yang begitu
menentramkan hati,” dia berucap bodoh lagi.
“Kau juga berucap
demikian ketika bertemu Putri kala itu,” aku sinis melihat kearahnya sebal.
“Heh! Berbeda! dia
membuat aku jatuh cinta dengan senyumnya. Besok aku akan nyatakan, doakan ya
sahabatku Terasya yang cantik,” ucapnya merayu dengan senyum yang aku bahkan
sangat benci sekarang.
“Kamu selalu seperti
itu, matamu itu, kau selalu tutup! Sampai kadang kau tertipu, aku sudah lelah
berbicara denganmu. Bahkan sekarang aku hampir gak kenal sama kamu. Entah
kenapa, aku gak ngerti jalan pikiran kamu. Kita asing,” aku mengakhiri dialog, dan
lari menutup gerbang.
Sesuatu yang sejak tadi
coba aku tahan. Sesuatu yang mendesak akhirnya menyeruak keluar. Entah akan
runyam seperti apa aku tidak peduli. Adit terlalu membingungkan. Aku pikir dia
akan mengatakan hal – hal yang dapat membawa pulangku kali ini bahagia. Namun
kecewa nampaknya harus turut ikut campur. Aku menjadi sulit berbicara, kata –
kata yang tadinya terlalu sulit untuk diucap, nyatanya berhasil aku keluarkan.
Maura Chaulia

Keren kak
BalasHapus❤
Hapus