Pendar Selesa di Langit Allah Maura Chaulia Bacalah Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Ankabut:45) Dersik mengalun menyambut kedatangan bulan penuh rahmat, Ramadhan. Anginnya mengalun kencang memukul tubuhku. Kerudung dan gamis yang kukenakan ikut berterbangan. Orang-orang berlalu lalang di sekelilingku, tapi tidak begitu ramai seperti biasanya. Pandemi membuat pembatasan sosial berlaku dimana-mana. Sudah lama rasanya tidak melihat suasana ini. Aku memarkirkan motor sambil menyusuri lorong pasar yang masih belum banyak berubah. Beberapa penjual sudah ramai memberikan diskon di muka toko. Tujuanku ke sini untuk menuju toko di ujung gang ini. Toko yang tak begitu besar, dengan dominan warna cokelat yang ternyata masih dipe...
Surat Pertama Halaman baru yang coba kubuat di dalam cerita. Sebagai pengantar kegelisahan pada ikat yang sudah meregang. Pilihan yang coba kamu dan aku putuskan. Arah yang berbeda dari jalan yang biasa dilalui. Kadang aku berpikir, untuk tetap memaksa berjalan searah denganmu. Memaksakan untuk tetap memilih pada rasa dan percaya pada keinginan hati. Namun, perasaan mana yang menyakiti pemiliknya secara terus-menerus Angkasa? Kutuliskan ini, pada genap 30 hari kita benar-benar memutuskan untuk saling berjarak. Tapi setiap sudut-sudut di ruangku dipenuhi kenangan bersamamu. Pada hari dimana aku bercerita mengenai betapa beruntungnya aku dicintai kamu - serta segala yang kamu bilang seperti: "Aku gak akan tinggalin kamu, percaya ya?". atau kalimatmu, "Aku selalu ada buat kamu ya, jangan gitu." Angkasa, memaksakan hatiku untuk tetap pada arah yang sama denganmu - menyiksa sekali. Aku selalu mengatakan baik-baik saja, dan masalahnya masih membekas di hati. Tentang tertu...
Terdengar agak aneh, ketika seseorang tak temukan dirinya sendiri padahal kita bersama diri sendiri sejauh ini. Melangkah kesana-kemari. Gontai. Patah. Bahagia. Tapi sejauh melangkah tak pernah temukan dirimu sendiri. Percaya atau tidak, kau hanya sia-siakan nikmat Tuhan untuk dirimu sendiri. Kau hanya membuang-membuang kesempatan. Tertinggal ketika orang sedang berlarian kesana-kemari berkejaran meraih sukses masing-masing. Kau sukses membuat pikiran dan badanmu lelah hanya untuk mengikuti langkah orang lain yang terus-menerus beranjak menuju mimpi. Diam dan berjalan melewati berbagai arus. Kawan, tulisan ini mungkin tak sebanding dengan sajak lain penuh makna yang mampu mengubah pikirmu. Saranku, diam sejenak, ketika sepertiga malam, dalam doa yang tulus dan penuh keyakinan. Yakinkan dirimu, harus bagaimana melangkah. Temukan dalam setiap bait-bait doa yang kau lantunkan dalam rapal-rapal mulutmu. Jangan egois pada tubuhmu. Bila mimpimu itu menyulitkanmu, tak perlu risau. Tanya k...
Komentar
Posting Komentar